oleh: M.Royani
Baru pertama kali dalam sejarah pembentukan sebuah organisasi yang notabene masih kampung, udik dan norak manjalankan sebuah rapat umum yang tidak bisa dikatakan formal karena berjalan seperti sharring biasa saja. Ini adalah sebuah bentuk baru dalam paradigma kita yang bergelut dalam organisasi tingkat rendah. Perihal kecakapan dalam mengemukakan pendapat adalah sesuatu yang jarang sekali kita temua pada organisasi semacam ini. Akan tetapi mereka juga punya segudang alasan kenapa ini semua sampai tidak muncul ke permukaan sebuah rapat.
Ketika rapat digelar disebuah rumah warga yang melibatkan seluruh anggota dan masyarakat sekitar para anggota rapat ternyata sangat antusias melihat sebuah fenomena yang dianggap langka seperti ini, bahkan untuk mendengar kata rapat saja hanya pernah didengar oleh siswa-siswi yang bersekolah yang kegirangan ketika gurunya berkata “Kami dewan guru akan mengadakan rapat pimpinan sekolah” contohnya. Para murid langsung bersorak kegirangan karena dalam benak mereka rapat berarti libur tanpa mengetahui apa arti rapat itu sebenarnya.
Rapat adalah sebuah kegiatan untuk merundingkan sesuatu masalah yang tengah dihadapi oleh suatu kelompok baik besar maupun kecil. Dalam keluarga mungkin lebih dikenal sebagai musyawarah, Tetapi sebenarnya sama saja karena mempunyai tujuan yang sama yakni untuk dapat memecahkan masalah yang tengah dihadapi. Dan musyawarah, kumpulan, ngariung, dsb itu termasuk ke dalam rapat.
Akan tetapi jika rapat yang biasanya terkesan informal dan biasa-biasa saja dirubah settingannya menjadi rapat umum yang formal akan tetapi kental dengan nuansa kultur asli tempat tersebut. Inilah yang baru-baru ini kita lakukan dengan Komunitas Muda Bersatu (KOMBER). Rapat yang melibatkan kalangan “luas” ini mengagendakan pembahasan tentang rencana dan visi misi KOMBER ke depan.
Keberadaan KOMBER sendiri sebenarnya masih belum banyak dikenal oleh masyarakat sekitar walalupun ada sebagian warga yang pernah mendegar nama KOMBER sebelumnya karena meskipun kami baru akan tetapi kami juga pernah melakukan sebuah deklarasi di dalam sebuah forum masyarakat tepatnya dalam sebuah pengajian mingguan di sebuah majelis.
Rata-rata dari masyarakat yang mengikuti rapat tersebut pensaran dan sedikit curiga dengan aktivitas yang kami gelar pada malam itu. Karena latar belakang KOMBER adalah sebuah komunitas oposisi yang dibentuk sebagai sebuah tandingan dari organisasi yang telah ada (akan tetapi kerjanya tidak ada -belum kelihatan-) jadi mereka khawatir kami akan merencanakan sebuah aksi yang mungkin akan menimbulkan keributan di kampung.
Setelah Rapat berjalan dengan beberapa ketentuan rapat yang dibacakan ketika rapat akan dimulai, sebagian dari warga tercengang melihat peristiwa seperti itu. Suatu hal yang jarang sekali ditemui oleh mereka dan kalaupun pernah hanya di televisi saja. Dan decak kagumpun terhempas dari salah seorang warga yang menyaksikan rapat kami. Agenda pertama kami rundingkan ke dalam forum dan anggota rapat yang lain menyambut dengan antusias menelaah problema yang ditawarkan. Dengan mengikuti tata aturan rapat yang ada satu persatu mulai mengeluarkan pendapat mereka masing-masing dengan argumen yang menurut mereka masuk akal.
Inilah yang disebut sebuah rapat sederhana yang berbobot dan sarat akan nilai-nilai demokratis sesuai dengan apa yang diajarkan oleh para pemimpin kita terdahulu. Sebuah rapat sederhana akan tetepi dapat menghasilkan sebuah kesepakatan besar dan berguna bagi masyarakat sekitar.

Jangan kebiasaan rapat musuh sudah mendekat kawan…